Address
Cikarang, Bekasi, Jawa Barat

Perempuan Paling Banyak Terjerat Pinjaman Online


Praktik rentenir melalui media digital dalam bentuk pinjaman daring hingga kini terus menjerat masyarakat. Rendahnya literasi keuangan digital membuat sejumlah orang terjerat utang dalam jumlah yang berlipat-lipat dari nilai pinjaman awal. Perempuan paling banyak terkena jerat rentenir di dunia maya tersebut.

Berbagai dampak buruk dialami para perempuan pengguna pinjaman daring atau pinjaman online (pinjol) ketika mereka tidak mampu melunasi pinjamannya. Tak hanya menanggung malu dan menghadapi teror dari penagih hutang, sejumlah perempuan juga menjadi korban pelecehan verbal, psikis, seksual, dan ekonomi serta mengalami depresi, trauma, bahkan bunuh diri.

”Korban pinjol sebagian besar adalah perempuan. Pinjol ilegal menyasar perempuan untuk menarik keuntungan sebanyak-banyaknya karena literasi finansial perempuan relatif lebih rendah,” ujar Eko Novi Ariyanti, Pelaksana Tugas Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada acara Media Talk yang digelar Humas Kementerian PPPA, Jumat (3/2/2023).

Perempuan banyak terjerat pinjol karena dianggap paling bertanggung jawab dalam urusan domestik. Masa pandemi Covid-19 juga berpengaruh bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga banyak perempuan terjerat pinjaman daring.

Sejauh ini Kementerian PPPA memang belum memiliki data atau angka pasti berapa jumlah perempuan yang menjadi korban pinjol ilegal. Namun, berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, pada tahun 2021 terdapat 2.522 kasus pinjaman daring.

”Ketika perempuan terdampak pinjol, terlambat membayar sehari saja mereka sudah diekspos kartu tanda penduduk, foto, dan nomor Whatsapp diberikan pada teman-teman dan sebagainya. Ada juga yang sampai bercerai. Kasus terberat bunuh diri karena mereka merasa malu, trauma, depresi, dan sebagainya,” kata Eko.